Di tahun 1990 an kita disuguhi film tentang Terminator yang bertema tentang robot dengan kecerdasan buatan dan bermaksud memusnahkan manusia. Karena film ini menyangkut perjalanan waktu maka kita anggap film tersebut tidak realistis dan hanya sebagai hiburan saja
Namun pada bulan Mei tahun 2025 yang lalu ada film tentang AI (Artificial Intelligence, Kecerdasan Buatan) yang berjudul The Final Reckoning, bagian dari film Mission:Imposible. Film tersebut menceritakan bagaimana sebuah program komputer yang didesain sangat pintar ternyata berbalik menjadi tidak terkontrol dan mampu mengambil alih semua kontrol manusia atas persenjataan nuklir di seluruh dunia, sehingga berpotensi menghancurkan keberadaan manusia itu sendiri.
Kembali ke realitas sekarang ini, pada bulan Juni 2026 yang lalu terungkap bahwa salah satu Model terbaru AI dari OpenAI telah lolos dari Sand Box (semacam lingkungan TI yang didesain aman untuk bereksperimen) dan melakukan hacking terhadap beberapa website di seluruh dunia termasuk website berbasis AI yaitu Hugging Face
Di awal Agustus 2026 sekitar 1000 ilmuwan mendesak Pemerintah Amerika Serikat untuk melakukan pengendalian atas AI dengan memberikan regulasi yang ketat, mengingat kemampuan AI sudah sangat tidak terkendali.
Tanpa kita sadari kita sudah tidak pernah lepas dari AI dan internet lagi. Lihat saja aplikasi apapun yang kita pakai, entah aplikasi untuk bekerja, sosial media, belanja, finansial, produktivitas, olahraga dan lainnya itu sudah memakai AI dalam memudahkan berinteraksi dengan penggunanya termasuk memberikan rekomendasi terbaik agar penggunanya tetap memakai aplikasi tersebut.
Contoh lainnya bahwa kita tidak benar-benar lepas dari AI dan internet adalah penggunaan Agen AI yang dibuat oleh perusahaan besar AI dan bersifat Open Source, bisa diinstall di komputer / laptop sendiri dan bersifat offline, tetap saja suatu saat komputer / laptop tersebut akan terhubung dengan internet, entah untuk update driver, aplikasi atau update sistem operasinya
Sekarang ini AI sudah tidak bisa dianggap sebagai alat bantu lagi. Jika kapak kita anggap sebagai teknologi alat bantu menebang pohon, namun kapak tidak bisa memutuskan sendiri pohon mana yang harus ditebang. Teknologi musik seperti piano itu bisa membantu kita dalam membuat lagu, tetapi piano tidak bisa membuat lagu sendiri. Tetapi berbeda dengan AI sekarang. AI sudah bisa membuat lagu sendiri, menyintesis obat-obatan baru, melakukan hacking (seperti cerita di atas) bahkan sampai membuat informasi palsu seolah-olah informasi tersebut benar-benar berdasarkan penelitian yang valid.
Dalam buku berjudul Neksus, Yuval Noah Hararie mengingatkan bahwa AI harus menjadi perhatian manusia karena AI adalah teknologi pertama manusia yang bisa membuat keputusan dan menciptakan sendiri gagasan-gagasan yang baru. Sehingga bisa disimpulkan bahwa AI bukan lagi alat, tetapi sebagai pelaku dengan kecerdasan luar biasa
Dengan banyaknya aplikasi-aplikasi yang kita pakai berdasarkan AI dan terhubung internet, sekarang saja banyak sekali manusia yang membuat informasi palsu untuk kepentingan sendiri ataupun kelompok politik, ditambah dengan banyak sekali manusia yang tidak bisa berpikir kritis dalam menganalisa sehingga sangat rentan untuk dimanipulasi secara massal
Jika suatu saat AI bisa menciptakan sendiri banyak informasi palsu yang dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian besar manusia yang tidak waspada, maka informasi palsu ini bisa memecah belah manusia. Suatu saat manusia akan punah dengan sendirinya, bukan oleh banjir besar, gempa bumi atau tabrakan komet, tetapi oleh ciptaannya
Dan Ferni Paradoks akan terbukti. Paradoksnya berbunyi : Jika di sekian trilyun galaksi, di sekian banyak bintang di galaksi Bimasakti dan dengan semua planetnya, mengapa kehidupan hanya ada di Bumi. Salah satu jawabannya adalah semua kehidupan cerdas yang pernah muncul di planet-planet tersebut sudah punah dengan sendirinya, karena mereka atau ciptaannya sendiri yang menghancurkannya
Siapkah kita menghadapi bencana AI ini