Memilih atau Dipilih

Sewaktu kita masih muda, apakah kita yang memilih pacar kita dan semua orang mau jadi pacar kita, atau kita pasrah dan terima saja sama yang mau sama kita.

Sewaktu kita muda, apakah orang berebut menjadi pacar kita, atau kita berebut dengan orang lain untuk menjadi pacar seseorang.

Sewaktu kita masih muda, apakah kita mudah mencari pacar baru, atau susah dapat pacar, sampai-sampai siapa saja bisa jadi pacar kita.

Sewaktu kita masih muda, apakah pacar kita  itu cantik (bagi pria) atau ganteng (bagi wanita), atau malah malu-maluin jika dikenalkan kepada orang lain sebagai pacar kita.

Terakhir, sewaktu kita masih muda, apakah yang akhirnya menjadi suami atau istri kita itu benar-benar pasangan yang kita inginkan, atau dia hanya satu-satunya orang yang mau sama kita.

Itulah bedanya soal bisa memilih atau hanya sekedar dipilih.

Mengapa begitu ? Karena yang bisa memilih itu yang mempunyai kualitas dan kemampuan, sehingga orang lain berebut untuk menjadi pasangannya. Sudah teruji mentalnya sehingga bisa dijadikan andalan saat menemui kesulitan. Punya mental tahan banting dan sanggup bangkit lagi saat menemui kegagalan. Bukannya seseorang yang cepat menyerah saat menemui kesulitan sehingga bikin susah pasangannya yang selalu memotivasi atau mendorong supaya terus maju.

Begitu pula jika kita punya kualitas yang baik, punya skill yang mumpuni, punya mental yang tahan banting, punya semangat juang yang tinggi dan punya pikiran positif. Kita akan menjadi pegawai-pegawai pilihan, yang diincar oleh semua unit untuk ditarik menjadi salah satu andalannya.

Kita tidak akan dibilang jelek jika diminta rekomendasinya, tidak akan diremehkan jika punya pendapat, dan selalu diikutsertakan dalam hal-hal yang penting.

Dampaknya kemana ? Tentunya ke perkembangan karir, semakin berkualitas, maka semakin cepat karir Anda.

Tapi sebagaimana kita memilih pasangan, selain tahan banting dan punya kemampuan, ada hal-hal pokok lainnya yang tetap harus kita punyai, yaitu Etika, Kejujuran (baca : intergritas), Proaktif dan Networking

Semoga berguna

Advertisements

Menyalahkan

Broadcast TV bilang bahwa “TV Kabel tidak akan diminati”  
Music & Film Industry bilang bahwa “Nonton Streaming tidak akan diminati”. 
KODAK bilang bahwa “Foto digital” tidak akan diminati”.  
Print Media bilang bahwa “Internet & Digitalisasi tidak akan mempengaruhi”.
Perusahaan gas dan batubara bilang bahwa “energi terbarukan tidak akan tumbuh” 
Industri musik bilang bahwa “musik berbayar tidak akan diminati” – 
Diktator bilang bahwa “Demokrasi tidak akan diminati di negaranya”
Orang yang lahir sebelum 1980 bilang bahwa “Millennial itu pemalas”
Pemilik budak dulu bilang bahwa “Budak itu tidak ingin bebas karena tidak bisa apa-apa”
Bank bilang bahwa “Bitcoin tidak akan diminati”
Taxi bilang bahwa “Uber, Grab dan Gocar tidak akan mengganggu bisnis mereka”
Hotel bilang bahwa “Airbnb dan Airy tidak akan bikin hotel mati” 
Kantor pos bilang bahwa “E-mail tidak bikin kantor pos mati suri” 
Perusahaan koran bilang bahwa “Internet tidak akan diminati”

Sekarang 

Trump bilang bahwa “Huawei akan lumpuh” 
atau sekarang PLN bilang bahwa “solar sel tidak akan bikin PLN lumpuh”
Seorang pegawai tetap bilang bahwa “pegawai outsourcing tidak punya nilai tawar menawar”
Atau ada yang bilang bahwa “Orang TI tetap akan survive karena tidak akan diganti perannya sama outsourcing”

Dan lain sebagainya

Ternyata yang dulu itu orang bilang “Tidak akan mempengaruhi” atau “Tidak akan diminati” atau “Tidak akan menganggu bisnis mereka” dan lain sebagainya, akhirnya tidak terbukti. Malah sekarang sebagian besar dari perusahaan-perusahaan tersebut menjadi mati.

Kadang tidak semua orang belajar dari pengalaman, termasuk pengalaman orang lain. Atau bahkan banyak yang menolak perubahan dan akhir menyalahkan orang lain. Siapa yang bisa disalahkan, paling mudah adalah menyalakan boss mereka, kemudian menyalahkan manajemen perusahaan mereka, kemudian lagi menyalahkan Direksi perusahaan tersebut dan akhirnya menyalahkan Pemerintah. Mereka sibuk menyalahkan sampai lupa bahwa mereka itu tidak mau berubah untuk mengikuti perubahan.

Apakah kita akhirnya hanya mau menyalahkan atas sesuatu yang terjadi dengan diri kita, atau kita berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebelum perubahan itu datang kepada kita.

Memberikan Edukasi kepada Pegawai

Bagi orang TI, siapa di sini yang sering mendapat komplain dari teman sekantor tentang komputernya, dan setelah di datangi, keluhannya hanya berupa disable dan enable driver wifi ? Atau siapa pernah mengalami komplain dan perbaikannya hanya menghidupkan alat hub atau switch yang tercabut kabel listriknya.

Mengapa bisa demikian ?
Karena teman-teman sekantor kita itu tidak mengerti sama sekali mengenai TI, jangankan para orang tua yang mau pensiun, kadang anak-anak muda pun juga gak tahu menahu mengenai TI, sehinga komplain mereka hanya hal-hal (yang menurut kita) sangat sepele.

Belum lagi mengenai update dan scan berkala dari antivirus, seenaknya install aplikasi crack yang di-download di internet, melakukan klik pada link yang disediakan email spam, masuk ke website yang berisi banyak jebakan malware dan banyak lagi melakukan kegiatan-kegiatan yang akan mempengaruhi keamanan buat komputer yang mereka pakai.
Ada juga mereka yang merasa komputer mereka tidak bisa login aplikasi terpusat, atau tidak bisa membuka email atau lupa password email perusahaan dan lain sebagainya.

Siapa yang dicari jika sudah mendapat masalah seperti itu ? Tentunya orang TI yang akan dicari oleh mereka. Padahal jika saja mereka tidak melakukan hal-hal seperti di atas itu, tentunya kita perlu menyelesaikan masalah tersebut. Jika hanya satu atau dua komputer yang bermasalah, maka kita tidak akan menjadi terlalu kewalahan, tetapi jika banyak komputer yang bermasalah dan semuanya membutuhkan penyelesaian yang cepat, maka tentunya kita akan merasakan kerepotan yang luar biasa.

Bagaimana mencegahnya ?
Kita perlu mengajari mereka untuk TIDAK melakukan hal-hal yang membahayakan komputer mereka, karena mereka memang tidak tahu. Jika perlu mengajari mereka sampai sedetil-detilnya.

Bagaimana caranya ?
Pertama, kita tentunya harus sabar menjelaskan kepada mereka tentang bahaya-bahaya dari sisi keamanan.
Kedua, kita perlu menjelaskan hal-hal teknis sederhana kepada mereka, misanya cara melakukan ping dan trace route dan melaporkan kepada kita, sehingga kita langsung tahu masalah jaringan tersebut ada di mana
Ketiga, kita perlu membuat panduan, entah tertulis atau pun gambar atau pun video, dan kita bisa melakukan sosialisasi secara khusus dengan memasukkan tulisan, gambar dan video tersebut. Untuk gambar dan Video, kita juga bisa mencari di internet atau youtube, kita modifikasi dan kita sebarkan kepada teman-teman satu perusahaan.

Jika kita melakukan secara terus-menerus, lama kelamaan mereka akan paham tentang pengelolaan dan gangguan komputer mereka serta  bagaimana melakukan pencegahan agar gangguan tersebut tidak terulang.

Akhirnya kita sudah membuat teman-teman kita tersebut mempunyai kebiasaan yang baik untuk mengelola komputer mereka, inilah yang saya sebut dengan memberikan Edukasi kepada pegawai.

Bagaimana jika kita tidak tahu caranya membuat Edukasi yang berguna selain hanya mencari di youtube?

Banyak website-website yang memberikan banyak sekali pencerahan mengenai segala sesuatu. Internet itu sumber ilmu, tinggal tergantung dari diri kita, apakah menggunakannya untuk mencari ilmu atau hanya sekedar (maaf) chit chat atau say hello

Mengelola Keyakinan Diri

Pernahkah bertemu seseorang yang kalau berobat harus ke dokter tertentu, karena jika gak ke dokter itu merasa gak akan sembuh ?

Atau pernah gak kita merasa kalau gak minum dua butir pil Panadol maka flu kita gak akan sembuh ?

Atau pernah gak kita merasa kalau gak dikerik maka masuk angin kita gak akan sembuh ?

Atau pernahkah kita merasa jika gak makan madu atau jamu atau suplemen tertentu maka kita gak akan fit ?

Semuanya saya sebut sebagai self hypnosis alias menghipnotis diri kita sendiri yang bertujuan meyakinkan diri kita sendiri bahwa jika kita melakukan sesuatu yang kita lakukan seperti di atas itu maka kita akan mendapatkan sesuai keyakinan tersebut. Saking kuatnya keyakinan tersebut maka tubuh akan merespon sesuai dengan keyakinan kita, kita bisa sembuh sesuai dengan keinginan kita.

Karena kenyataannya bahwa orang lain bisa juga sembuh jika gak berobat ke dokter tersebut, atau bisa sembuh flunya jika minum obat selain Panadol, atau bisa sembuh dari masuk angin jika gak dikerik dan akhirnya badan orang juga bisa tetap fit walaupun gak minum madu, jamu atau suplemen lainnya.

Saya sendiri juga gak pernah masuk angin sejak masuk PLN tahun 1995 sampai dengan sekarang, walaupun kedinginan, kehujanan, naik motor tengah malam tanpa jaket, kurang tidur atau telat makan sekalipun, hanya karena mampu menerapkan self hypnosis untuk tidak masuk angin.

Ternyata self hypnosis ini meyakinkan pikiran kita, dan pikiran kita mempengaruhi tubuh kita, sehingga tubuh kita merespon sesuai keinginan pikiran kita.

Apa hubungannya dengan pekerjaan kita?

Secara tidak sadar kita selama ini sudah melakukan self hypnosis, selain contoh di atas.
Jika kita yakin bahwa kita berhasil melakukan pekerjaan tersebut, maka pekerjaan tersebut ternyata berhasil kita lakukan, begitu pula jika kita pesimis pekerjaan tersebut susah atau tidak berhasil maka pekerjaan yang dilakukan tersebut hanyalah menghasilkan sesuatu yang sedikit berguna atau penuh dengan banyak kekurangan.

Jika kita yakin bahwa pekerjaan tersebut bisa kita kerjakan maka selalu saja ada cara atau ide atau sesuatu yang lain yang muncul, yang akan membuat pekerjaan tersebut selesai dengan baik. Jika kita pesimis maka semuanya tidak akan muncul sampai batas waktu yang sudah ditentukan.

Maka dari itu, sebelum melakukan sebuah pekerjaan, kita harus meyakinkan diri kita atau tim kita, seyakin-yakinnya bahwa pekerjaan tersebut akan berhasil dengan baik, maka jalan terjalnya akan lebih mudah ditaklukan.

Dari pada punya prinsip : bisa sih tapi sulit, lebih baik kita pakai prinsip sulit sih tapi bisa

Mengelola Kebiasaan

Christiano Ronaldo pernah bilang : “Jika kita dikelilingi dengan orang yang berpikiran positif maka kita menjadi orang positif, begitu pula sebaliknya”.

Membuat kebiasaan baik itu tidak mudah, apalagi jika di sekeliling kita ada saja orang-orang yang terbiasa berpikiran negatif dan selalu menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dia terima, dan jika sering bergaul dengan orang-orang seperti itu, maka kita pun lama-lama akan membenarkan apa yang menjadi kebiasaannya.

Mungkin kita masih ingat masa sekolah kita, ada teman-teman yang biasa bergaul dengan anak-anak yang sering bolos dan belajar seadanya, yang mempunyai standar hidup dan keberhasilan yang pas-pasan, ada juga bergaul dengan teman-teman yang rajin dan berjuang keras supaya bisa pintar, yang mempunyai standar keberhasilan hidup yang tinggi. Setelah sekian tahun kemudian, kita akan melihat mana yang lebih berhasil dan mana yang (maaf) kurang berhasil.

Tapi rupanya kebiasaan-kebiasaan tersebut yang akhirnya membentuk hidup kita, termasuk membuat kebiasaan bangkit kembali setelah terjadi kegagalan
Jika kita biasa gagal atau mendapat nilai jelek, atau pun kita biasa pintar dan mendapatkan nilai bagus, semuanya kembali kepada kebiasaan bangkit kembali setelah kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut.

Silahkan lihat teman-teman kita masa SMP atau SMA dulu, siapa saja yang sudah berhasil ?
Ternyata kebanyakan yang sudah berhasil adalah bukan teman-teman kita yang biasa menjadi langganan rangking 5 besar, atau yang kita anggap gagal bukan teman-teman yang berada pada rangking bawah. Ternyata yang berhasil adalah teman-teman kita yang biasa saja yang mempunyai kemampuan TIDAK TAKUT GAGAL dan jika pun mereka gagal, mereka akan cepat Move On dan berani mencoba lagi.

Kenapa teman-teman kita yang rangking atas itu kebanyakan kurang berhasil ? Karena mereka itu TAKUT GAGAL dan takut dicap sebagai orang bodoh setelah bertahun-tahun selalu dicap sebagai orang yang pintar. Akhirnya mereka ini selalu takut dan ragu dalam membuat keputusan strategis atau takut mencoba hal-hal baru atau takut dalam menghadapi perubahan yang baru, sehingga mereka akhirnya tersingkir dengan sendirinya.

Bagaimana dengan kita ? Apakah kita mempunyai kebiasaan berani mengambil keputusan, kebiasaan bangkit kembali setelah gagal dan kebiasaan mencoba hal-hal yang baru.

Jika kita mempunyai kebiasaan tersebut, berarti kita termasuk orang-orang yang akan survive pada perubahan ke depan.

Bukan Pegawai Biasa

Kalau kita ditanya sama anak atau istri / suami kita (jika sudah berkeluarga), atau ditanya (calon) pasangan kita.

“Pak, Bu, Mas atau Dik, prestasimu kira-kira apa saja sih ?”

Trus kita jawab :
Gak pernah datang terlambat.
Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Bisa bekerja sama dengan atasan, staf atau teman lainnya.
Bersikap baik dan positif kepada semua orang.
Melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya.
Kadang-kadang saya juga lembur.

Apakah itu yang bisa disebut prestasi kita ?
Menurutku itu BUKAN prestasi kita, tetapi KEWAJIBAN kita.

Saya sebut dengan kewajiban karena kita memang sudah digaji untuk melakukan hal-hal diatas. Apalagi uang lembur itu sebenarnya sudah masuk di dalam komponen gaji kita, sehingga sebenarnya kita itu sudah dibayar lembur walaupun gak kerja lembur.

Kalau kita melakukan hal-hal di bawah standar seperti yang tertulis di atas, apakah kita bisa disebut dengan tidak profesional ?
Jelas iya, maksudnya TIDAK PROFESIONAL.
Kita tidak datang tepat waktu dan juga pulang duluan, tidak pernah menyelesaikan tepat waktu juga, jika menyelesaikan tepat waktu tapi hasilnya gak sesuai dengan yang diharapkan. Ditambah dengan sikap yang seenaknya dan selalu berpikiran negatif.
Masih ditambah dengan selalu mengeluh, misalnya boss yang tidak mengerti diri kita, kebijakan perusahaan yang aneh atau tidak sesuai dengan keinginan kelompok kita, tidak dapat penghargaan dan lain sebagainya.
Jadi saya sebut itu tidak profesional karena memang kita melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang dibayarkan kepada kita.

Seharusnya bagaimana ?

Seharusnya memang kita bersikap proaktif karena di dalam sikap profesional itu di dalamnya ada sikap proaktif.

Bagaimana contohnya ?
Diminta selesai 1 minggu, bisa diselesaikan dalam waktu 4 hari.
Diminta selesai 5, bisa selesai 7.
Jika ada masalah ya diselesaikan bukan dikeluhkan.
Jika ada hambatan ya dikomunikasikan bukan didiamkan atau malah dijadikan bahan gosip untuk menyalahkan orang lain.

Contoh yang lain lagi profesional adalah jika dalam satu hari dia bisa mengerjakan kerjaannya dalam waktu 7 jam, maka 1 jam berikutnya dia bisa memikirkan inovasi, ide-ide baru atau belajar sendiri untuk pengembangan diri.
Lebih hebat lagi sebenarnya adalah datang tepat waktu, pulang tepat waktu tetapi memberikan dampak yang luar biasa, sehingga dengan pulang tepat waktu dia bisa bersosialisasi, berhubungan dengan keluarga (walaupun itu jarak jauh), bisa berolahraga dan melakukan kegiatan keagamaan.

Pegawai yang begini yang kemudian pasti direkomendasikan baik, bagus atau luar biasa oleh siapa saja (tidak hanya atasan) sehingga saat orang lain mencari kandidat sebuah posisi, semua orang akan menunjuk dirinya.

Banyak cara untuk “menjual diri”, selain dengan cara membuat networking yang bagus, mampu berbicara yang bisa dimengerti oleh semua pihak, kemampuan memahami orang lain, tetapi juga dengan cara bersikap proaktif seperti yang saya tunjukkan diatas.

Perjalanan Palembang ke Malang lewat darat

Pada tanggal 20 Desember 2018 kami memulai perjalanan dari Palembang ke Malang.

Hari pertama kami lalui dari Palembang sampai ke Cilegon. Keluar rumah mulai pukul 09.30, karena harus ambil raport Hector dulu di sekolahnya. Awal perjalanan sudah dimulai dengan kemacetan di daerah Poligon (ada kecelakaan mobil tangki BBM) dan di Indralaya (pasar tumpah). Kemacetan di Indralaya ini sepertinya memang sepertinya dibiar-biarkan oleh Walikota sana. Karena sewaktu lewat sana siang hari pasti macet panjang, entah pas mudik lebaran atau pas mau natalan kemarin.

Kemacetan ketiga ada di Bandar Jaya Lampung. Cuma memang wajar mengalami kemacetan karena ada pertemuan arus kendaraan dari Lintas Timur dan Lintas Tengah. Makanya kami istirahat makan saja di sana.

Arus lancar setelah mendekati kota Bandarlampung sampai ke Bakauheni. 12 km sebelum Bakauheni kita masuk tol yang masih digratiskan.

Kemudian kami naik kapal yang (katanya) eksekutif dengan perjalanan hanya 1 jam saja. Sampai akhirnya sampai di Cilegon pukul 01.00, dan kami pun bermalam di sana

Perjalanan hari kedua dimulai pukul 08.30, dan keluar kota Cilegon langsung masuk tol Merak – Jakarta.

Kemudian kami masuk ke Tol Lingkar Luar Jakarta dan tembus ke tol Cikampek. Di Tol Cikampek inilah kami mengalami kemacetan, padahal aktivitas pembangunan di sana sudah dihentikan. Kemacetan benar-benar hilang pada simpang tiga ke arah Bandung.

Dari tol Jakarta – Cikampek kami langsung lanjut ke tol sebagai berikut :

  1. Cikopo – Palimanan
  2. Palimanan – Kanci
  3. Kanci – Pejagan
  4. Pejagan – Pemalang
  5. Pemalang – Batang
  6. Batang – Semarang
  7. Semarang – Solo.

Saat di Solo kami keluar tol, karena harus mengantar keluarga dan bertamu sebentar di sana. Setelah itu kami lanjutkan lagi perjalanan dengan memasuki tol lagi yaitu:

  1. Solo – Ngawi
  2. Ngawi – Kertosono
  3. Kertosono – Mojokerto
  4. Mojokerto – Surabaya

Di Surabaya kami keluar tol dan masuk lagi tol berikutnya (sepertinya memang tidak dibuat bersambung dan harus keluar tol). Tol yang dimasuki yaitu

  1. Surabaya – Gempol
  2. Gempol – Pandaan

Dari Pandaan ke Malang sebenarnya sudah ada tol tetapi belum dibuka 24 jam karena masih percobaan. Jadi dari Pandaan ke Malang kami melewati jalan umum biasa. Sampai rumah sekitar pukul 10 malam

Perjalanan lewat tol yang luar biasa dari Cilegon sampai ke Malang.