Setelah berolahraga angkat beban dan berenang di sebuah Fitness Center di hotel terkenal di Jakarta, Tono membuka emailnya. Pagi itu emailnya berisi beberapa permintaan dari seorang petinggi partai, seorang pengacara, dan seorang pengusaha.
Dari petinggi partai tersebut, Tono diminta menyiapkan sebuah tampilan sosial media yang isinya menjelek-jelekkan salah seorang menteri di Kabinet sekarang
Dari pengacara tersebut, Tono diminta membuat sosial media yang menyudutkan korban pada sebuah persidangan di salah satu kota di Jawa Timur
Dan dari seorang Pengusaha, Tono diminta mempromosikan sebuah produk makanan baru, dengan rasa yang berbeda dan agak menjelekkan pesaingnya.
Isi materinya ada pada lampiran email tersebut, dan Tono tinggal membuatkan ilustrasinya. Tono membalas email dan segera meneruskan email-email tersebut ke beberapa anggota timnya
Tim pertama adalah tim ilustrator, tugasnya adalah membuat gambar dan tulisan provokatif, misalnya menuduh menteri tersebut mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai dengan permintaan presiden, atau membuat tulisan dan gambar yang menyebutkan bahwa korban di persidangan tersebut adalah kamuflase belaka, dan yang terakhir adalah membuat ilustrasi bahwa produk itu sudah banyak dicoba oleh masyarakat, masyarakat bisa menikmatinya dan kualitasnya jauh lebih unggul dari pesaingnya
Tim kedua adalah 100 orang yang bekerja dari mana saja, asal mereka mempunyai masing-masing 100 buah smartphone baru atau lama asal bisa terinstal aplikasi sosial media yang terkenal misalnya Tiktok, Facebook, Twitter (X), Instagram dan Threads dengan minimal 2 account yang berbeda. 100 orang yang bekerja kepada Tono ini mempunyai kemampuan bisa menuliskan script bot di sebuah laptop untuk terhubung dan bisa mengendalikan 100 buah smartphone tersebut dalam sekali ekskusi.
Jadi dari tim Tono sejumlah 100 orang dengan 100 smartphone ini dan dengan minimal 2 account per aplikasi sosial media, maka Tono mempunyai minimal 20.000 account sosial media, entah itu Tiktok, Facebook, Twitter (X), Instagram dan Threads.
Tim ketiga adalah tim volunter yang terdiri dari orang-orang bodoh yang tinggal di mana saja yang setuju dan mendukung ilustrasi atau video apa saja yang ditulis dan dibuat oleh tim pertama tadi. Mereka tidak perlu dibayar sedikit pun karena kebodohan mereka yang langsung setuju dan kemudian meneruskan ilustrasi atau video yang dibuat tersebut
Jadi saat tim pertama memposting ilustrasi tentang menteri tersebut di sosial media mereka yaitu Tiktok, Facebook, Twitter (X), Instagram dan Threads, maka 100 orang tadi langsung melakukan like dan beberapa diantaranya memberikan komentar mendukung. Setelah itu mereka memakai script untuk pindah ke account yang kedua, serta melakukan hal yang sama yaitu memberikan Like dan memberikan komentar setuju. hal yang sama diikuti oleh 99 orang lainnya yang tersebar di Indonesia atau di luar negeri
Begitu pula postingan tentang menyudutkan korban di sebuah persidangan dan peluncuran sebuah produk baru, 100 orang melakukan hal yang sama, yaitu memberikan Like dan memberikan komentar yang mendukung.
Sementara tim ketiga tinggal meneruskan saja tanpa pikir panjang, termasuk memberikan komentar mendukung, jika perlu menjadi pasukan berani mati dalam membela isi ilustrasi tersebut, karena melihat banyak orang yang setuju dan menuliskan komentar yang relevan terhadap apa yang diposting oleh tim pertama
Setelah seminggu dari semua ilustrasi dan video tersebut diposting, Tono menerima upahnya beberapa puluh juta rupiah, Tono tinggal membaginya kepada tim pertama dan tim kedua, serta mentertawakan tim ketiga karena kebodohan mereka
Begitulah dunia sosial media bekerja
Kita membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menghilangkan bias pikiran dalam mencerna sebuah informasi, apakah informasi tersebut memang benar atau hanya sebuah informasi hoax, jika tidak maka kita hanya terseret dan tenggelam dalam arus informasi yang tidak terkira banyaknya.