Hari Buruh

Hari ini adalah hari buruh, dan diperingati oleh buruh seluruh dunia, dan di Indonesia menjadi sangat spesial, sampai-sampai dijadikan hari libur resmi nasional. Dan karena menjadi hari libur khusus, maka dijadikan ajang untuk berdemo besar-besaran. Apa yang menjadi tuntutan para pendemo sudah bisa kita ketahui bersama, secara garis besar adalah kenaikan UMR dan tambahan fasilitas lainnya. Bisa saja semua tuntutan pendemo itu dikabulkan Pemerintah. Namun bukan itu yang menjadi persoalan, yang menjadi persoalan justru apakah tuntutan yang diminta itu layak untuk diberikan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,buruh adalah orang yg bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah atau kata lainnya adalah pekerja atau pegawai. Namun akhir-akhir ini dalam penggunaannya sehari-hari arti dari kata Buruh mengalami penyempitan menjadi seseorang yang bekerja kasar tanpa keterampilan spesifik yang didapat dari pendidikan sebelumnya dan rata-rata berpendidikan SMA bahkan lebih rendah dari itu. Contohnya adalah para operator di pabrik dalam industri apapun yang berkaitan dengan produksi sebuah produk.
Ketrampilan, daya juang, kemampuan mempelajari hal baru, inisiatif, kreatifitas dan kemampuan analisa itu seiring dengan penghasilan. Masalahnya adalah banyak dari pendemo tersebut bukanlah tenaga kerja ahli, mereka bukan bagian dari pekerja seperti perawat, insinyur, arsitek, tenaga survei, akuntan, pemandu wisata, hingga tenaga medis atau profesi-profesi lainnya yang memang membutuhkan skill khusus. Mereka hanya lulusan SMA atau setingkatnya. Jika mereka memang lulusan SMK, apakah keahlian yang dipunyai setara dengan yang dibutuhkan dunia industri, mengingat bersekolah di sekolah swasta yang tidak jelas kriterianya, ataupun bermalas-malasan (termasuk tawuran) ketika masih sekolah.

Apakah pengusaha juga akan rela jika Pemerintah mengabulkan tuntutan mereka. Bisa jadi malah dijadikan ajang penutupan tempat usaha, pabrik atau pun tokonya. Jikapun tidak tutup, maka akan terjadi PHK besar-besaran karena perusahaannya gulung tikar atau efisiensi akibat biaya SDM membengkak sedangkan kemampuan perusahaan tidak mencukupi. Untuk perusahaan multi nasional, mereka akan pindah ke negera lain yang tidak ada tuntutan buruh yang luar biasa ini, seperti di Vietnam, Thailand atau Laos. Akhirnya semuanya menjadi rugi, buruh kehilangan pekerjaan, pengusaha kehilangan keuntungan, dan pemerintah kehilangan pajak.

Ada pepatah bahwa ada kemauan pasti ada jalan. Banyak temanku yang sukses jadi pengusaha dengan melakukan bisnis kecil-kecilan ketika mereka menjadi buruh, cleaning service atau satpam. Mereka berani menantang jatuh bangun berbisnis, berani mencari melihat dan bermain dengan peluang. Atau kita melihat masyarakat kecil yang tekun berusaha menjadi penjual melalui kios kecil, gerobak dorong atau membawa pikulan kemana-mana, tapi mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Mereka ini justru tidak ingin menjadi buruh, karena melihat bahwa menjadi buruh hanya menghabiskan waktu mereka seharian tetapi dengan pendapatan yang tidak seberapa.

Mungkin pola pikir yang salah bahwa menjadi pegawai dengan penghasilan bulanan itu lebih baik dibandingkan dengan berusaha kecil-kecilan dengan pendapatan yang tidak pasti, yang membuat buruh tetap bertahan dengan pekerjaannya, tetapi kemudian menuntut upah yang terus naik.

Untuk itu, alangkah baiknya jika lingkaran setan tahunan ini dihentikan dari sekarang. Dimulai dari peningkatan kualitas guru dan sekolah agar bisa memberikan skill dan pengetahuan yang baik kepada muridnya. Guru bukanlah profesi (maaf) sisa, karena tidak bisa bersaing masuk ke profesi lainnya. Begitu pula ada peningkatan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, ditambah dengan kurikulum enterpreneur, agar mereka mampu berjuang menjadi pengusaha kecil-kecilan ketika tidak mampu diterima bekerja di sebuah kantor atau pabrik. Lagi pula jika memang mereka benar-benar terdidik, mempunyai skill yang baik, mereka akan dicari oleh dunia industri, bahkan dunia industri dari negara lainnya, jadi yang namanya MEA benar-benar merupakan peluang kerja yang luar biasa.

Begitu pula dorongan keluarga dan perubahan paradigma berpikir, bahwa menjadi pengusaha dan berusaha (walau kecil-kecilan) itu lebih baik dibandingkan dengan menjadi pegawai (walau gajinya kecil sekali).
Jika tidak ada perubahan, maka tiap tahun selalu ada acara demo yang sama, apalagi dua atau tiga tahun lagi di saat masa pemilihan, pasti banyak caleg-caleg yang sok suci mencari perhatian dengan berpura-pura membela para buruh, jika perlu caleg ini ikut demo sekalian, demi perolehan suaranya, dan buruh tetap tidak dapat apa-apa.