Dampak Infrastruktur Baru

Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintahan Jokowi membangun jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan Banda Aceh sampai Bandar Lampung, meneruskan trans Sulawesi dan membangun Trans Papua. Disamping itu Pemerintah Jokowi juga membangun 34 Bandara baru dan sekitar 12 pelabuhan besar yang baru umtuk program tol laut, termasuk pelabuhan tanjung siapi-api di Sumatera Selatan. Menurut info, kecepatan internet di Indonesia sudah menanjak dan mencapai urutan ke 6 dari seluruh Asia dengan biaya internet yang semakin murah. Bunga bank akan diturunkan dan juga akan diberlakukan tax amnesty untuk pemilik-pemilik modal yang meletakkan uangnya di LN. Dengan contoh pemerintahan yang bersih di DKI Jakarta oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, ditambah dengan contoh dari kota atau kabupaten lainnya seperti kota Bandung, Surabaya, Kutai Karta Negara, Purwakarta atau malah contoh dari Propinsi Jawa Tengah, disertai pemberantasan koripsi yang masif dari KPK, diharapkan bahwa pemimpin daerah lainnya juga ikutan bersih atau yang tidak bersih akan tersingkir dengan sendirinya. Apalagi kita mempunyai ibu Susi yang tegas menenggelamkan kapal pencuri ikan, tentunya dengan kondisi demikian, diharapkan Indonesia akan semakin makmur.
Apa dampaknya bagi kita. Yang jelas bahwa semua bahan baku, bahan mentah, bahan setengah jadi, atau malah bahan hasil produk industri akan begitu mudahnya berseliweran ke seluruh Indonesia. Hasil sayuran, kopi atau teh dari Pagaralam akan langsung dibawa ke Jawa, begitu pula duku, durian atau rambutan yang dihasilkan oleh pohon-pohon di Sumatera ini, akan begitu mudahnya sampai ke Jawa atau pulau lainnya. Akan terjadi pembangunan daerah-daerah industri baru di sekitar jalan tol atau di sekitar pelabuhan-pelabuhan yang baru. Para pemilik modal akan berbondong-bondong membangun industri atau jasa atau usaha sektor lainnya di sekitar jalan tol atau pelabuhan atau daerah lainnya selama akses jalan begitu mudah. Bisa saja malah akan terjadi banyak shelter batubara yang akan dibangun, sehingga penambangan batu bara akan bangkit kembali dan meningkatkan ekonomi sekitarnya, walau harus diakui akan merusak ekosistem alam di penambangan tersebut.
Siapkah tenaga kerja kita atau siapkah anak-anak kita atau siapkah kita dalam memanfaatkan ketersediaan infrastruktur yang baru dan bagus tersebut. Apakah mereka sudah mempunyai skil, wawasan, etos, integritas, networking dan semangat juang untuk berani bersaing dalam bekerja di sana. Jika tidak siap, maka kita tidak bisa menahan serbuan tenaga kerja asing yang akan berbondong-bondong masuk, mereka tidak bisa dicegah karena sudah ada perjanjian MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).
Masih ada 2 atau 3 tahun lagi untuk mempersiapkan itu. Diharapkan dunia pendidikan bisa berbenah, tidak lagi berbasis hapalan atau berbasis nilai bagus, tetapi bagaimana bisa mengajarkan kepada anak didik untuk mempunyai semangat mencari dan menambah skill, membuat networking serta kemampuan berbahasa asing yang baik. Dengan pendidikan dan skil yang bagus, kita bisa menyaksikan anak-anak kita ikut bersaing dalam mencari posisi yang tinggi, mereka akan dicari oleh banyak perusahaan atau malah diminta untuk memimpin salah satu industri di sana, bukan hanya sebagai penonton di tengah keriuhan industri-industri yang baru muncul.
Palembang tentunya akan menjadi lebih ramai, lebih padat dan akan menjadi lebih beragam penduduknya, dan tidak menutup kemungkinan para ekpatriat tinggal lama untuk bekerja di Palembang. Dan akan ada masanya sekolah internasional yang lebih bagus masuk ke Palembang, menggantikan sekolah-sekolah yang ada. Mereka yang mampu bayar berapapun untuk mendapatkan pendidikan yang bagus buat anaknya akan memilih sekolah-sekolah tersebut. Begitu pula muncul Rumah Sakit baru, perumahan mewah baru, apartemen baru dan hotel-hotel baru.
Tinggal kita menyikapinya, ini peluang atau ancaman.