Pengendara

Mungkin kita sudah jengah dengan aksi pengendara mobil atau motor di kota-kota besar. Bagi pengendara motor, mereka seenaknya naik ke trotoar, berjalan melawan arus, masuk ke sela-sela mobil tidak peduli mobil sedang jalan, maju ke depan marka jalan di lampu lalu lintas sehingga menghalangi kendaraan yang lewat dari jalan lain. Sebenarnya tidak hanya pengendara motor, tetapi juga pengendara mobil yang berperilaku tidak baik di jalan raya. Kita bisa melihat mobil yang menyerobot antrian di putaran, menyerobot lampu lalu lintas, berhenti di tikungan (tidak hanya angkot yang begini), parkir di sembarang tempat sehingga membuat macet, tidak mau mengalah di persimpangan, memenuhi persimpangan di sekitar lampu lalu lintas supaya cepat lewat, dan lain sebagainya.

Mengapa mereka begitu ganas di jalan raya, menurut saya penyebabnya ada beberapa, disamping memang tidak mempunyai etika, mereka juga tidak mempunyai identitas. Tidak mempunyai identitas artinya mereka tidak dikenal sebagai sebuah personal. Kita tidak tahu siapa nama, jabatan, alamat, umur, pekerjaan atau identitas lainnya. Dengan begitu, mereka merasa tidak ada sanksi jika mereka melanggar lalu lintas atau melanggar etika di jalan raya. Tidak ada yang mengenal mereka jika mereka menyerobot antrian, berhenti sembarangan, tidak memberi lampu tanda belok, dan lainnya.
Ada juga perilaku yang tidak terpuji, yaitu bersikap arogan terhadap pejalan kaki. Tidak semua jalan protokol mempunyai tempat penyeberangan alias zebra cross. Nah jika ada pejalan kaki mau menyeberang, semestinya mereka memperlambat atau malah sebaiknya berhenti supaya penyeberang bisa lewat. Tetapi apa yang terjadi, mereka tetap tidak mau mengurangi kecepatan, malah ada yang malah seolah-olah mau menabrak si penyeberang jalan.
Apakah saya pernah mengalami, jawabannya sering, di depan kantorku.
Memang patut disayangkan, bahwa kemampuan membeli kendaraan tidak dibarengi kemampuan beretika di jalan raya.