Budaya Pamer

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Wijoyono yang berani menghadang rombongan moge di Condong Catur Yogyakarta, aku melihat bahwa tindakan moge tersebut akibat dari beberapa atau malah banyak tindakan lainnya. Misalnya pembiaran motor komunitas (tidak hanya moge) memakai sirine, mobil sipil memakai sirine, pemasangan atribut tentara atau polisi, dan lain-lain.

Juga ada kebiasaan bahwa jika ramai-ramai yang melakukan itu adalah benar, contohnya di lampu lalu lintas, jika ramai-ramai menerobos atau melewati marka jalan karena tidak ada polisi, maka itu benar, jika ramai-ramai melawan arus itu juga benar, jika ramai-ramai tidak pakai helm di kawasan perumahan maka itu benar. Dan akhirnya yang dianggap benar ini akan menjadi benar selamanya, termasuk pengendara moge yang selama ini selalu mendapat prioritas, dan merasa bahwa jika memakai moge, maka boleh melanggar lalu lintas. Di salah satu mall di Palembang menyediakan tempat khusus parkir untuk moge, persis di depan pintu masuk, sementara pengendara mobil atau motor lainnya, silahkan bersusah payah cari lokasi kosong, berebutan dan jalan kaki jauh jika ingin parkir.

Masalah terbesar dari kita termasuk diriku adalah mental atau kepribadian. Bahwa jika ingin hebat, tunjukkan dengan hartamu atau keberanianmu. Dan itu yang dibidik oleh produsen barang dan jasa. Lihatlah berapa banyak anak muda kita yang memakai iPhone 6 sewaktu baru saja diumumkan keluar di Amerika. Mobil mewah berjalan santai di jalan padat tanpa memperdulikan orang tidak bisa lewat di belakangnya. Lihatlah artis memakai mobil Ferari walau itu bodong. Lihatlah berapa banyak anak muda kita yang merasa bangga jika berani menerobos lalu lintas, atau dikejar polisi. Atau yang lebih konyol adalah kita bangga mencaci maki pemerintah namun memakai akun anonim tanpa bisa menunjukkan solusi atas caci makinya, dan tidak bisa membedakan mengkritik dengan solusi atau hanya mencaci maki. Yang paling parah adalah untuk kaya dengan cara korupsi, karena jika dia kaya, maka orang akan menghargai dia.

Mari kita jaga bersama bangsa ini, yang katanya bangsa timur, religius dan berbudaya. Kita buat bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat, bukan bangsa yang suka melanggar hukum dalam bentuk dan alasan apapun. Dimulai dari keluarga dan anak-anak kita serta dimulai dari diri kita yang menunjukkan perbuatan yang baik dan beradab.

Happy Birthday Indonesia-ku