Pasar Caleg

Sekarang ini dimana saja, kapan saja, siapa saja bisa lihat apa yang dinamakan promosi caleg (calon legislatif), baik caleg DPRD Tk II, Tk I, DPR Pusat dan DPD, bisa berupa billboard besar dan kecil, selebaran, gambar di kaca datau disamping mobil (bayangkan bila dipasang di samping bis besar), di radio, di TV, di kartu nama, di koran (lokal), di majalah, di tabloid, bahkan ada di tabloid kalangan sendiri. Semuanya menampilkan citra diri, kelebihan, kekuatan, empati, simpati dan lain-lain kepada yang membaca dengan caranya masing-masing. Hal ini membuat ruang publik menjadi ramai dengan promosi-promosi mereka, berdiri dan menempel pada semua sudut, terutama pada daerah pertemuan yang dianggap strategis. Sehingga membuat kita sebagai pengguna jalan, pengguna ruang publik dan sebagai orang yang numpang lewat menjadi tidak bisa melihat kearah yang kita ingin liat, semuanya sudah dipenuhi dengan iklan caleg tersebut. Bagaimana kita bisa melihat sebuah pohon hijau dan rindang, jika dibatang pohon berjejal foto caleg dan diatas pohon tegak sebuah bendera partai. Bagaimana kita bisa melihat bagusnya sebuah desain arsitektur jika didepan bangunan itu juga berjejal baliho iklan caleg. Bagaimana kita bisa melihat indahnya taman di lokasi umum jika didepan, dibelakang, disamping kanan dan kiri juga berjejal iklan caleg. Bagaimana kita bisa mendengar musik yang bagus jika setiap saat radio mempromosikan caleg yang beriklan lewat radio tersebut. Saya secara pribadi sudah menjadi tidak nyaman melihat semua iklan caleg tersebut dan mendengar promosi caleg diradio, apalagi berhenti di lampu lalulintas dan mobil didepan itu juga menampilkan iklan caleg.

Tidak ada yang salah dengan mereka dalam mempromosikan diri mereka, karena mereka harus menampilkan diri mereka kepada masyarakat supaya mereka bisa dipilih masyarakat dan menjadi anggota DPRD, DPR dan DPD yang terhormat. Cuma masalahnya adalah iklan mereka sudah terlalu banyak. Semakin banyak uang mereka yang dipakai untuk promosi, semakin banyak pula kesempatan mereka tampil dimana-mana, sehingga diseluruh sudut kota dan propinsi terpampang iklan orang yang sama.

Tetapi menurut saya tetap ada yang salah, bagaimana saya tahu kalau mereka mempunyai integritas, mempunyai kemampuan berpikir, mempunyai visi dan misi, mempunyai strategi, mempunyai idealisme, mempunyai pandangan terhadap sebuah masalah, mempunyai motivasi dalam mengembangkan konsep pembangunan, mempunyai sikap kritis tanpa kepentingan pribadi, mempunyai simpati dan empati terhadap masalah masyarakat dan negara. Kemudian apakah saya tahu, apakah mereka ini fanatik terhadap agamanya, apakah mereka bercita-cita mendirikan negara tertentu, apakah mereka apatis terhadap agama tertentu, apakah mereka selalu curiga terhadap kegiatan minoritas, apakah mereka mau berjuang demi sebuah kebenaran. Apakah saya akan tahu dan lain-lain, jika yang ditampilkan HANYA FOTO, SLOGAN, PARTAI dan NOMOR URUT pencoblosan. Saya tidak tahu apa-apa terhadap mereka sehingga mengapa saya harus memilih mereka. Jadi saya tidak akan memilih mereka. Saya akan memilih seseorang yang saya kenal saja, yang saya tahu track recordnya, baik di kegiatan umum maupun di kegiatan politik. Atau saya tidak akan memilih siapapun karena saya tidak tahu lagi siapa yang layak untuk mewakili saya di legislatif.

Saya cuma mau menyarankan, buatlah sebuah atau lebih media yang bisa mempertemukan antara satu atau lebih caleg ini sehingga konsep pertemuan ini tidak lagi menjadi satu arah (iklan satu arah) tetapi masyarakat juga bisa merespon iklan mereka, bahkan bisa langsung bertanya apapun kepada mereka. Media tersebut bisa saja talk show di radio, atau sebuah website dan dibuat sebuah halaman untuk berkomunikasi, atau sebuah blog dan dibuat sebuah diskusi, atau sebuah email, nomer telepon rumah atau selular, atau bahkan sebuah nickname yahoo messenger, MSN messenger, GTalk, ICQ, Jabber, Skype dan lain-lain. Atau bahkan sebuah account Facebook untuk menampilkan komunikasi yang lebih efektif. Dengan begitu masyarakat (yang gak gaptek) bisa langsung menanyakan apa yang bisa mereka lakukan jika masyarakat memilih mereka.

Jadi disetiap iklan mereka, apapun bentuknya, bisa disertakan nomer telepon, jadwal talk show mereka, atau website, atau blog, atau email, atau sebuah atau lebih nickname messenger supaya bisa langsung berhubungan dengan masyarakat.