PKL – Mengapa Serba Salah

PKL atau Praktek Kerja Lapangan, merupakan salah satu bentuk usaha dari dunia pendidikan untuk membuat siswa SMK (Keterampilan) menjadi terampil dan siap bekerja di dunia nyata / dunia industri. Dengan melakukan PKL diharapkan para siswa bisa memahami dunia industri secara realistis dengan melakukan pekerjaan seperti apa yang dilakukan oleh pegawai dimana siswa tersebut melakukan PKL.

Sebulan ini di kantorku kedatangan (banyak) siswa yang melakukan PKL, ada siswa yang berasal dari pendidikan D3, ada siswa yang datang dari SMK Teknik (dulu STM) dan ada siswa dari SMK non teknik (dulu SMKK). Karena banyak yang datang, maka kantorku menjadi ramai sekali, mereka selalu ada dimana-mana. Ada yang pakai seragam, ada yang pakai baju biasa, ada yang cantik dan jelek, ada yang bermuka ramah dan ada yang bermuka masam hehehe. Begitulah kenyataannya. Untuk siswa SMK Teknik, biasanya ditempatkan di unit dibawah kantorku, karena unit tersebut lebih banyak melakukan pekerjaan teknis seperti gangguan listrik, pemeliharaan APP (alat pengukur dan pembatas), pemeliharaan jaringan sampai pemeliharaan ringan. Sementara sisanya yaitu SMK non teknik,  akhirnya banyak yang ditempatkan dikantorku.

Mengapa saya sebut serba salah ? Karena dikantorku sebenarnya sudah banyak proses yang berjalan dengan baik. Proses surat menyurat, proses pembuatan dokumen dan salinannya, proses pengisian data, proses pencatatan dokumen dan lain-lain sudah dilakukan secara baik. Hanya saja kadang-kadang kewalahan karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang pegawai. Seorang atau banyak siswa PKL harus jeli melihat peluang pekerjaan yang bisa dilakukan. Misalnya peluang tersebut adalah pengetikan dokumen yang baru melalui komputer, pencatatan surat masuk, pendistribusian surat dan belajar sebuah proses menjadi sebuah keputusan. Namun yang saya liat adalah tidak seperti itu. Mereka hanya berkumpul, diam dan termenung, menanti perintah dari pegawai dan akhirnya mengantuk sampai jam kantor selesai. Saya sudah mencoba menyuruh mereka untuk melakukan perhitungan ulang sebuah tabel sederhana yang memang saya butuhkan, tetapi hasilnya diluar ekspetasi saya, apa yang saya minta tidak dilakukan dengan baik, misalnya mereka tidak bisa mem-print, tidak melakukan pengisian data yang saya minta dan parahnya mereka salah memasukkan jenis data. Sehingga pada waktu saya melakukan cross check atas data tersebut, saya dibuat bingung sendiri karena hasil perhitungan tidak sesuai dengan sebenarnya. Bagaimana saya membuat kesimpulan yang baik kalau datanya salah.

Sekali waktu mereka saya ajak rapat, saya ingin mereka melihat proses rapat, debat dan pengambilan sebuah keputusan melalui data-data dan opini yang ada, mereka saya minta untuk membuat catatan untuk rapat tersebut. Apa yang terjadi, mereka bingung sendiri, tidak tahu apa yang  mereka tulis untuk catatan mereka. Saya harapkan mereka mempunyai gambaran dunia kerja itu melalui proses demikian. Dengan demikian mereka bisa mengikuti proses-proses selanjutnya setelah rapat tersebut selesai.

Namun ada juga beberapa siswa yang penuh dengan inisiatif, mengajukan diri untuk membantu pegawai dalam bekerja, bertanggungjawab atas pekerjaan yang diberikan dan mau bersusah payah agar bisa mempelajari sebuah atau banyak proses didunia kerja dikantorku. Jarang sekali siswa-siswa yang seperti ini.

Untuk tahun depan atau semester depan, sebaiknya dunia pendidikan memberikan pembekalan untuk melakukan PKL, ya pembekalan kecil-kecilan seperti pemberian motivasi, pemberian wawasan, untung dan ruginya kalau apatis dan lain-lain. Pokoknya ada deh yang dilakukan sekolah supaya gak males ngeliat PKL dikantorku. Hanya usulan saja.

Oh ya, mengapa sih tetap diterima walau sudah banyak, sebenarnya kami sudah menolak mereka untuk PKL dikantorku, tetapi alasan sekolah mereka bahwa ditempat lain juga sudah penuh, jadi ya mereka akhirnya diterima. Serba salah khan ?